pertama dan yang paling utama marilah kita panjatkan puji sukur kehadirat Allah swt, karna telah memberikan kita usia yang panjang,, hingga saat ini kita masih dapat menikmati karunianya, berupa ilmu pengetahuan dan juga akhlak yang mulia,,. dan tak lupa solawat beriiring salam kita limpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhamad s.a.w. karena telah membawa kita kepada kemuliaan,.
Atas nama ACHMAD ANDREE JAELANI,, meminta ma,af kepada pembaca atas kesalahan kata maupun penulisan kata,, karena manusia tak luput dari kesalahan-kesalahan,, sebenarnya ini karia tulis kekasih yang amat sangat saya cintai,, seorang mahasiswi Unifersitas Bengkulu, jurusan B,K(bimbingan konseling) yang bernama POPY DELLA ADYTIA,, gadis pintar dan baik hati yang pernah saya kenal, sampai usia saya saat ini,,. inilah tulisanya selamat membaca,.
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN SENI DALAM ISLAM (IPTEKS)
¨ Konsep Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS)
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindera, ilustrasi dan firasat.
Ilmu adalah pengetahuan yang telah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasikan sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, telah diuji kebenarannya dan dapat diuji ulang secara ilmiah. Dalam kajian filsafat setiap ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian. Karena seseorang yang memperdalam ilmu tertentu disebut sebagai spesialis, sedangkan orang yang banyak tahu tapi tidak memperdalam disebut generalis. Dengan keterbatasan kemampuan manusia, maka sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam.
Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan dalam sudut pandang budaya, dan teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral, akan tetapi dalam situasi seperti ini teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi yang merusak dan potensi kekuasaan, disitulah letak perbedaan antara ilmu pengetahuan dan teknologi.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpang-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungan. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk yang memanfaatkan yang sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia atau digunakan untuk menghancurkan manusia itu sendiri.
Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya, seni juga merupakan ekspresi jiwa seseorang kemudian hasil ekspresi jiwa tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari budaya manusia, karena seni itu diidentikkan dengan keindahan. Seni yang lepas dari nilai-nilai keutuhan tidak akan abadi karena ukurannya adalah nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah.
Sumber ilmu pengetahuan:
Dalam pemikiran Islam ada dua sumber ilmu yaitu cikal dan wahyu. Keduanya tidak boleh ditentangkan, karena manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan akal budinya berdasarkan tuntutan al-Qur’an dan sunnah rasul. Atas dasar itu, ilmu dalam pemikiran Islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) dan tingkat kebenarannya bersifat mutlak (absolute) karena bersumber dari wahyu Allah dan ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat kebenarannya bersifat nisbi (relative) karena bersumber dari akal pikiran manusia.
Prestasi yang gemilang dalam pengembangan IPTEKS pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar menemukan proses sunnatullah itu terjadi di alam ini, bukan merencanakan dan menciptakan suatu hukum baru diluar sunnahtullah (hukum Allah/hukum alam)
¨ Integrasi Iman, Ipteks, dan Amal
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terinteraksi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul Islam (agama islam), didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu aqidah, syari’ah dan akhlak, dengan kata lain iman, ilmu dan amal shaleh/ikhsan, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an S.Ibrahim/14:24-25.
® “Alamtarokayfadhoroballaah matsala kalimatan thoyyibatankhasajarotin thoyyibatin ashluhaa tsaabituwwafar’uhaa fissamaa” (24)
Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan dinul islam 427 seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.
® “Tu’tiiy ukulahaa khullahiiynin mbiidznirobihaa wa yadhribulloohul’ amtsalinnaasi la’allahum yatadzakkaruun” (25)
(pohon) itu menghasilkan buahnya pada settiap waktu dengan seizing TuhanNya dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia.
Dari ayat di atas sudah disebutkan dengan jelas betapa sempurnanya ajaran islam Ayat tersebut juga menggambarkan keutuhan antara iman, ilmu dan amal atau syariah dan akhlak dengan menganalogikan dinul Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Ini merupakan gambaran bahwa antara iman, ilmu dan amal merupakan suatu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menupang tegaknya ajaran Islam, ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan. Dahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu ibarat dengan teknologi dan seni. IPTEKS yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal shaleh bukan kerusakan alam.
¨ Keutamaan Orang yang Beriman dan Berilmu
Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal shaleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun atas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar. sama halnya dengan perkembangan IPTEKS yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, kesempurnaannya dibekali seperangkat potensi. Potensi yang paling utama adalah akal. Dan akal tersebut berfungsi untuk berpikir hasil pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Di dalam Al-qur’an telah disebutkan bahwa “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat”. Maksudnya adalah: Setiap manusia yang berilmu, memiliki tingkatan – tingkatan tertentu, semakin tinggi ilmunya, semakin tinggi tingkatan orang tersebut.
Keutamaan orang yang berilmu adalah Ilmu merupakan warisan para nabi, Orang yang berilmu dapat mengantarkannya kepada jalan syahid diatas kebenaran, Orang yang berilmu merupakan orang yang terus menerus mengerjakan perintah Allah swt dan menjauhi larangannya sampai hari kiamat, ilmu merupakan jalan untuk menuju surga, dan Allah swt mengangkat derajat orang yang berilmu baik itu didunia dan diakhirat.
¨ Tanggungjawab Ilmuwan Terhadap Alam dan Lingkungan
Menurut Imam Al-Gazhali: makhluk yang paling mulia adalah manusia, sedangkan sesuatu yang paling mulia pada diri manusia adalah hatinya, tugas utama pendidik adalah menyempurnakannya, membersihkan dan mengiringi peserta didik agar hatinya selalu dekat kepada Allah swt, melalui perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, para pendidik akan selalu dikenang oleh anak didiknya. Kemudian al-Gazhali memberikan argumentasi yang kuat, baik berdasarkan al-Qur’an dan as Sunnah, maupun argumentasi secara rasional. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa mengajarkan ilmu bukan hanya termasuk aspek ibadah kepada Allah swt, melainkan juga termasuk khalifah Allah swt, karena hati orang alim telah dibukakan oleh Allah swt.
Ada dua fungsi utama manusia di dunia yaitu sebagai ‘abdun’ (hamba Allah) dan sebagai ‘khalifah Allah’ dibumi. Esensi dari “abdun’ adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah swt sebagai pencipta akan menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan oleh sang pencipta berupa potensi-potensi dan keikhlasan manusia menghambakan dirinya kepada Allah akan mencegah kehambaan kepada sesama manusia termasuk kepada dirinya.
Manusia diciptakan dimuka bumi ini dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kencenderungan kepada perbuatan fasik, serta berfungsi sebagai khalifah/wakil Allah dimuka bumi agar ia mampu mempunyai tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungannya tempat tinggalnya. Sehingga manusia diberi kebebasan untuk mengeksplorasi, menggali sumber daya alam serta dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, akan tetapi manusia juga harus dapat menyadari terlebih dahulu bahwa potensi sumber daya alam akan habis terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup apabila manusia tidak hanya menjaga keseimbangannya.
Dengan memiliki ilmu pengetahuan kita pasti bisa tidak akan mengeksploitasi alam ini secara berlebihan paling hanya kebutuhan primernya bukan untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu saja. Terlepas dari pada itu kerusakan alam dan lingkungan ini lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri, mereka banyak berkhianat terhadap perjanjiannya sendiri kepada Allah swt dan mereka tidak menjaga amanat Allah swt untuk menjaga kelestarian alam ini. Sehingga telah nampak kerusakan dilaut dan didarat yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.
Untuk itu melaksanakan tanggung jawabnya, manusia diberikan keistimewaan berupa kebebasan untuk memilih dan berkreasi sekaligus untuk menghadapkannya dengan tuntutan kodratnya sebagai makhluk psikofisik. Namun ia akan sadar akan keterbatasannya yang menurut ketaatan dan ketundukan terhadap aturan Allah swt baik dalam konteks ketaatan terhadap perintah beribadah secara langsung maupun dalam kontes ketaatan terhadap sunnatullah “hukum alam” perpaduan antara ibadah dan khalifah akan mewujudkan manusia yang ideal yakni manusia yang selamat di dunia dan diakhirat.
terima kasih telah membuka blok ini,







